Hubungan Father Absence dengan Regulasi Emosi pada Mahasiswa Minang di Sumatera Barat

Authors

  • Putri Aurel Violeta Universitas Negeri Padang, Indonesia
  • Rida Yanna Primanita Universitas Negeri Padang, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/anthor.v5i4.986

Keywords:

Father Absence, Regulasi Emosi, Mahasiswa Minang, Budaya Matrilineal

Abstract

Regulasi emosi merupakan kemampuan penting yang dibutuhkan mahasiswa untuk menghadapi tuntutan akademik, sosial, dan personal selama masa perkuliahan. Kesulitan dalam regulasi emosi berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah psikologis, termasuk kecenderungan penggunaan strategi koping maladaptif seperti non-suicidal self-injury (NSSI). Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap perkembangan regulasi emosi adalah keterlibatan ayah dalam pengasuhan, yang dapat dijelaskan melalui konsep father absence. Fenomena ini menarik dikaji pada masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, di mana peran pengasuhan cenderung lebih didominasi oleh ibu dan mamak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara father absence dan regulasi emosi pada mahasiswa Minang di Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 385 mahasiswa beretnis Minangkabau yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui skala father absence berdasarkan teori Xiang dan Zhou (2024) serta skala regulasi emosi berdasarkan model Gross (2014), kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa berada pada kategori sedang, baik pada variabel father absence (68,83%) maupun regulasi emosi (78,44%). Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara father absence dan regulasi emosi (r = 0,712; p < 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan ayah tetap memiliki peran penting dalam perkembangan kemampuan regulasi emosi mahasiswa, sekalipun dalam konteks budaya matrilineal Minangkabau yang menempatkan ayah pada peran yang lebih simbolis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan program pendampingan psikologis yang memperkuat peran ayah dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa.

References

Aldao, A., Nolen-Hoeksema, S., & Schweizer, S. (2010). Emotion-regulation strategies across psychopathology: A meta-analytic review. Clinical Psychology Review, 30(2), 217–237.

Amato, P. R., & Gilbreth, J. G. (1999). Nonresident fathers and children's well-being: A meta-analysis. Journal of Marriage and the Family, 61(3), 557–573.

Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480.

Berking, M., & Wupperman, P. (2012). Emotion regulation and mental health: Recent findings, current challenges, and future directions. Current Opinion in Psychiatry, 25(2), 128–134.

Brumariu, L. E., & Kerns, K. A. (2010). Parent-child attachment and emotion regulation. New Directions for Child and Adolescent Development, 2010(127), 31–45.

Extremera, N., & Rey, L. (2016). Ability emotional intelligence and life satisfaction: Positive and negative affect as mediators. Personality and Individual Differences, 102, 98–101.

Fajriyanti, A., Saputri, D., & Sujarwo. (2024). Fenomena fatherless di Indonesia. The Indonesian Journal of Social Studies, 7(1), 189–194.

Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2008). How to design and evaluate research in education (7th ed.). McGraw-Hill.

Gottman, J. M., Katz, L. F., & Hooven, C. (1996). Parental meta-emotion philosophy and the emotional life of families: Theoretical models and preliminary data. Journal of Family Psychology, 10(3), 243–268.

Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.

Gross, J. J. (2014). Emotion regulation: Conceptual and empirical foundations. In J. J. Gross (Ed.), Handbook of emotion regulation (2nd ed., pp. 3–20). Guilford Press.

Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation processes: Implications for affect, relationships, and well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 85(2), 348–362.

Islamiah, N., Breinholst, S., Walczak, M. A., & Esbjørn, B. H. (2023). The role of fathers in children's emotion regulation development: A systematic review. Infant and Child Development, 32(2).

Iwanski, A., Lichtenstein, L., Mühling, L. E., & Zimmermann, P. (2021). Effects of father and mother attachment on depressive symptoms in middle childhood and adolescence: The mediating role of emotion regulation. Brain Sciences, 11(9), Article 1153.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

Lamb, M. E. (2010). The role of the father in child development (5th ed.). Wiley.

Nurjanah, N. E., Jalal, F., & Supena, A. (2023). Studi kasus fatherless: Peran ayah dalam pengasuhan anak usia dini. Kumara Cendekia, 11(3), 261–270.

Paquette, D. (2004). Theorizing the father-child relationship: Mechanisms and developmental outcomes. Human Development, 47(4), 193–219.

Santrock, J. W. (2019). Life-span development (17th ed.). McGraw-Hill Education.

Sugiyono. (2013). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Xiang, Y., & Zhou, Y. (2023). Development and validation of the father-love absence scale for adolescents. Behavioral Sciences, 13(5), Article 435.

Yunita, D., & Naqiyah, N. (2023). Pengembangan instrumen skala regulasi emosi pada peserta didik SMK.

Downloads

Published

2026-07-19

How to Cite

Violeta, P. A., & Primanita, R. Y. (2026). Hubungan Father Absence dengan Regulasi Emosi pada Mahasiswa Minang di Sumatera Barat. ANTHOR: Education and Learning Journal, 5(4), 813–818. https://doi.org/10.31004/anthor.v5i4.986

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.