Analisis Wacana Kritis terhadap Berita Rupiah Loyo
Kan Orang di Desa Nggak Pakai Dolar?
DOI:
https://doi.org/10.31004/anthor.v5i3.797Keywords:
Analisis Wacana Kritis, Teun A. van Dijk, Populisme Ekonomi, Framing Media Digital, RupiahAbstract
Penelitian ini mengkaji pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pelemahan nilai tukar Rupiah yang direpresentasikan melalui kalimat “rakyat/orang di desa tidak pakai dolar” dalam pemberitaan dan unggahan media digital. Pernyataan tersebut penting dianalisis karena menghubungkan isu ekonomi makro dengan bahasa politik yang sederhana, akrab, dan berorientasi kerakyatan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur wacana, strategi retorika politik, ideologi populisme ekonomi, serta pengaruh konteks sosial dan media digital terhadap penerimaan publik. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk. Data penelitian berupa teks pernyataan, transkrip video, pemberitaan media daring, serta respons publik yang relevan. Analisis dilakukan melalui lima dimensi, yaitu struktur makro, superstruktur, struktur mikro, kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana tersebut membangun tema besar penenangan publik melalui simbol “desa” sebagai representasi ekonomi rakyat dan “dolar” sebagai simbol ekonomi global. Pada tingkat mikro, diksi informal seperti “nggak pakai” dan partikel “kan” membentuk kesan akrab, membumi, dan persuasif. Namun, wacana tersebut juga menyederhanakan hubungan antara kurs, harga barang, rantai pasok, dan kehidupan masyarakat desa. Penelitian menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut merupakan strategi legitimasi politik berbasis populisme ekonomi yang diperkuat oleh framing media digital.
References
Adiputra, W. M., Irawanto, B., & Kurnia, N. (2023). Arena komunikasi politik di Indonesia: Bagaimana masyarakat sipil menggunakan media baru sebagai komunikasi politik. Jurnal Komunikasi, 17(2), 225–242. https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol17.iss2.art6
Deha, D. (2021). Representasi ideologi populisme dalam pemberitaan Tempo.co. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(2), 150–165. https://doi.org/10.14710/interaksi.10.2.150-165
Eriyanto. (2023). Analisis wacana: Pengantar analisis teks media. LKiS Pelangi Aksara.
Fadillah, P. (2022). Analisis wacana kritis Teun A. van Dijk pada teks berita KPK respons wacana periksa Anies di kasus korupsi Munjul. Jurnal Pena Indonesia, 7(2), 78–85. https://journal.unesa.ac.id/index.php/jpi/article/view/13373
Fairclough, N. (2013). Critical discourse analysis: The critical study of language. Routledge.
Febryanti, D. R., & Ahmad, N. (2023). Kandidat ideal atau populis? Strategi framing visual Ganjar Pranowo dan Puan Maharani melalui Instagram. Jurnal Komunikasi, 18(1), 74–94. https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol18.iss1.art5
Hidayat, R. (2024). Retorika populis dan legitimasi kekuasaan dalam diskursus ekonomi nasional. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Politik, 12(1), 45–62.
Kamindang, I., & Amijaya, M. (2024). TikTok sebagai media komunikasi politik aktor partai politik di Kota Palu. Jurnal Ilmu Komunikasi UHO: Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Sosial dan Informasi, 9(1), 1–15. https://doi.org/10.52423/jikuho.v9i1.151
Kurniawan, A. (2025). Strategi komunikasi pemerintah dalam menanggapi krisis ekonomi di era media baru. Jurnal Komunikasi Massa dan Kebijakan Publik, 9(2), 112–130.
Marlina, D., & Hakim, L. (2025). Peran TikTok dalam kampanye politik: Strategi menarik Gen Z di Pemilu 2024. Jurnal Audiens, 6(1), 196–213. https://doi.org/10.18196/jas.v6i1.587
Megawati, E. (2021). Analisis wacana kritis model Fairclough dan Wodak pada pidato Prabowo. Kandai, 17(1), 75–90. https://doi.org/10.26499/jk.v17i1.1551
Nuryanto, T., Rustono, R., & Wahyudi, W. (2021). Analisis wacana kritis profil Usmar Ismail, Bapak Perfilman yang akan dianugerahi gelar pahlawan oleh Jokowi. Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya, 8(2), 129–145. https://doi.org/10.26740/paramasastra.v8n2.p129-145
Oktiaputri, A. (2023). Analisis wacana kritis model Van Dijk terhadap berita online “Gaduh PeduliLindungi dituding melanggar hak asasi manusia, ada apa?”. Semantik, 12(1), 1–20. https://doi.org/10.22460/semantik.v12i1.p1-20
Oswaldo, I. G. (2026, May 17). Prabowo: Mau dolar AS berapa ribu kek, di desa nggak pakai dolar. detikFinance. https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8491459/prabowo-mau-dolar-as-berapa-ribu-kek-di-desa-nggak-pakai-dolar
Prabowo, S. (2026, May). Pernyataan terkait fluktuasi nilai tukar rupiah [Video]. TikTok. https://vt.tiktok.com/ZSxhoDWsX/
Pratama, A. (2021). Retorika nasionalisme ekonomi dan dampak psikologis massa dalam krisis moneter. Jurnal Kajian Politik dan Otoritas, 8(4), 210–225.
Ramadhan, S. G., & Assidik, G. K. (2022). Analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk pada pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2020. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 8(1), 22–39. https://doi.org/10.30605/onoma.v8i1.1507
Ramadhani, F. (2022). Bahasa dan kekuasaan: Konstruksi hegemoni aktor politik dalam kebijakan publik. Jurnal Analisis Sosial Politik, 15(1), 45–58.
Sakka, S. B., Nurhadi, N., & Sari, E. S. (2023). Analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk pada pidato Presiden di KTT ke-42 ASEAN. Cendekia: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 3(2), 93–102. https://doi.org/10.51878/cendekia.v3i2.2237
Sari, D. P., & Wijaya, H. (2025). Konstruksi media dan framing isu ekonomi: Studi kasus kebijakan publik di Indonesia. Jurnal Studi Komunikasi dan Media, 11(3), 201–218.
Sulistiawan, M. J., Afriliana, V. A., & Baehaqie, I. (2024). Analisis wacana kritis model Van Dijk pada sambutan Joko Widodo pada pembukaan Kongres XXIII PGRI tahun 2024. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 10(2), 1683–1693. https://doi.org/10.30605/onoma.v10i2.3582
Utami, S., & Wijaya, H. (2023). Dimensi sosiokultural wacana populis: Polarisasi bahasa elit vs akar rumput di Indonesia. Jurnal Sosiolinguistik Indonesia, 11(2), 89–104.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Darwin Effendi, Catrin Putri Irsa, Riska Febrianti, Shinta Amelia Nabilla, Yoja Zaiduhasa Saimona, Diva Maharani Lolyta, Rufi Salsa Maharani, Marcella Nurmala Sari, Wulan Agra Pratiwi, Mellyana umikalsum Az-zahra, Hayatun Khasanah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







