Analisis Wacana Kritis terhadap Berita Rupiah Loyo

Kan Orang di Desa Nggak Pakai Dolar?

Authors

  • Darwin Effendi Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Catrin Putri Irsa Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Riska Febrianti Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Shinta Amelia Nabilla Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Yoja Zaiduhasa Saimona Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Diva Maharani Lolyta Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Rufi Salsa Maharani Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Marcella Nurmala Sari Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Wulan Agra Pratiwi Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Mellyana umikalsum Az-zahra Universitas PGRI Palembang, Indonesia
  • Hayatun Khasanah Universitas PGRI Palembang, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/anthor.v5i3.797

Keywords:

Analisis Wacana Kritis, Teun A. van Dijk, Populisme Ekonomi, Framing Media Digital, Rupiah

Abstract

Penelitian ini mengkaji pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pelemahan nilai tukar Rupiah yang direpresentasikan melalui kalimat “rakyat/orang di desa tidak pakai dolar” dalam pemberitaan dan unggahan media digital. Pernyataan tersebut penting dianalisis karena menghubungkan isu ekonomi makro dengan bahasa politik yang sederhana, akrab, dan berorientasi kerakyatan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur wacana, strategi retorika politik, ideologi populisme ekonomi, serta pengaruh konteks sosial dan media digital terhadap penerimaan publik. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk. Data penelitian berupa teks pernyataan, transkrip video, pemberitaan media daring, serta respons publik yang relevan. Analisis dilakukan melalui lima dimensi, yaitu struktur makro, superstruktur, struktur mikro, kognisi sosial, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana tersebut membangun tema besar penenangan publik melalui simbol “desa” sebagai representasi ekonomi rakyat dan “dolar” sebagai simbol ekonomi global. Pada tingkat mikro, diksi informal seperti “nggak pakai” dan partikel “kan” membentuk kesan akrab, membumi, dan persuasif. Namun, wacana tersebut juga menyederhanakan hubungan antara kurs, harga barang, rantai pasok, dan kehidupan masyarakat desa. Penelitian menyimpulkan bahwa pernyataan tersebut merupakan strategi legitimasi politik berbasis populisme ekonomi yang diperkuat oleh framing media digital.

References

Adiputra, W. M., Irawanto, B., & Kurnia, N. (2023). Arena komunikasi politik di Indonesia: Bagaimana masyarakat sipil menggunakan media baru sebagai komunikasi politik. Jurnal Komunikasi, 17(2), 225–242. https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol17.iss2.art6

Deha, D. (2021). Representasi ideologi populisme dalam pemberitaan Tempo.co. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(2), 150–165. https://doi.org/10.14710/interaksi.10.2.150-165

Eriyanto. (2023). Analisis wacana: Pengantar analisis teks media. LKiS Pelangi Aksara.

Fadillah, P. (2022). Analisis wacana kritis Teun A. van Dijk pada teks berita KPK respons wacana periksa Anies di kasus korupsi Munjul. Jurnal Pena Indonesia, 7(2), 78–85. https://journal.unesa.ac.id/index.php/jpi/article/view/13373

Fairclough, N. (2013). Critical discourse analysis: The critical study of language. Routledge.

Febryanti, D. R., & Ahmad, N. (2023). Kandidat ideal atau populis? Strategi framing visual Ganjar Pranowo dan Puan Maharani melalui Instagram. Jurnal Komunikasi, 18(1), 74–94. https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol18.iss1.art5

Hidayat, R. (2024). Retorika populis dan legitimasi kekuasaan dalam diskursus ekonomi nasional. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Politik, 12(1), 45–62.

Kamindang, I., & Amijaya, M. (2024). TikTok sebagai media komunikasi politik aktor partai politik di Kota Palu. Jurnal Ilmu Komunikasi UHO: Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Sosial dan Informasi, 9(1), 1–15. https://doi.org/10.52423/jikuho.v9i1.151

Kurniawan, A. (2025). Strategi komunikasi pemerintah dalam menanggapi krisis ekonomi di era media baru. Jurnal Komunikasi Massa dan Kebijakan Publik, 9(2), 112–130.

Marlina, D., & Hakim, L. (2025). Peran TikTok dalam kampanye politik: Strategi menarik Gen Z di Pemilu 2024. Jurnal Audiens, 6(1), 196–213. https://doi.org/10.18196/jas.v6i1.587

Megawati, E. (2021). Analisis wacana kritis model Fairclough dan Wodak pada pidato Prabowo. Kandai, 17(1), 75–90. https://doi.org/10.26499/jk.v17i1.1551

Nuryanto, T., Rustono, R., & Wahyudi, W. (2021). Analisis wacana kritis profil Usmar Ismail, Bapak Perfilman yang akan dianugerahi gelar pahlawan oleh Jokowi. Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya, 8(2), 129–145. https://doi.org/10.26740/paramasastra.v8n2.p129-145

Oktiaputri, A. (2023). Analisis wacana kritis model Van Dijk terhadap berita online “Gaduh PeduliLindungi dituding melanggar hak asasi manusia, ada apa?”. Semantik, 12(1), 1–20. https://doi.org/10.22460/semantik.v12i1.p1-20

Oswaldo, I. G. (2026, May 17). Prabowo: Mau dolar AS berapa ribu kek, di desa nggak pakai dolar. detikFinance. https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8491459/prabowo-mau-dolar-as-berapa-ribu-kek-di-desa-nggak-pakai-dolar

Prabowo, S. (2026, May). Pernyataan terkait fluktuasi nilai tukar rupiah [Video]. TikTok. https://vt.tiktok.com/ZSxhoDWsX/

Pratama, A. (2021). Retorika nasionalisme ekonomi dan dampak psikologis massa dalam krisis moneter. Jurnal Kajian Politik dan Otoritas, 8(4), 210–225.

Ramadhan, S. G., & Assidik, G. K. (2022). Analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk pada pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2020. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 8(1), 22–39. https://doi.org/10.30605/onoma.v8i1.1507

Ramadhani, F. (2022). Bahasa dan kekuasaan: Konstruksi hegemoni aktor politik dalam kebijakan publik. Jurnal Analisis Sosial Politik, 15(1), 45–58.

Sakka, S. B., Nurhadi, N., & Sari, E. S. (2023). Analisis wacana kritis model Teun A. van Dijk pada pidato Presiden di KTT ke-42 ASEAN. Cendekia: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 3(2), 93–102. https://doi.org/10.51878/cendekia.v3i2.2237

Sari, D. P., & Wijaya, H. (2025). Konstruksi media dan framing isu ekonomi: Studi kasus kebijakan publik di Indonesia. Jurnal Studi Komunikasi dan Media, 11(3), 201–218.

Sulistiawan, M. J., Afriliana, V. A., & Baehaqie, I. (2024). Analisis wacana kritis model Van Dijk pada sambutan Joko Widodo pada pembukaan Kongres XXIII PGRI tahun 2024. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, 10(2), 1683–1693. https://doi.org/10.30605/onoma.v10i2.3582

Utami, S., & Wijaya, H. (2023). Dimensi sosiokultural wacana populis: Polarisasi bahasa elit vs akar rumput di Indonesia. Jurnal Sosiolinguistik Indonesia, 11(2), 89–104.

Downloads

Published

2026-06-30

How to Cite

Effendi, D., Irsa, C. P., Febrianti, R., Nabilla, S. A., Saimona, Y. Z., Lolyta, D. M., … Khasanah, H. (2026). Analisis Wacana Kritis terhadap Berita Rupiah Loyo: Kan Orang di Desa Nggak Pakai Dolar?. ANTHOR: Education and Learning Journal, 5(3), 2024–2034. https://doi.org/10.31004/anthor.v5i3.797

Issue

Section

Articles

Similar Articles

<< < 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.

Most read articles by the same author(s)