Konsep Pendidikan pada Kisah Nabi Khidir As Dan Nabi Musa As Dalam Surah Al-Kahfi Ayat 62-82 dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam (Tafsir Al-Misbah)

Authors

  • Siti Syamsiah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Dedi Masri Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Nazliyani Pane Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
  • Dwi Afri Yani Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

DOI:

https://doi.org/10.31004/anthor.v2i4.199

Keywords:

Konsep Pendidikan, Kisah Nabi Khidir AS dan Nabu Musa AS, Surah Al-Kahfi, Pendidikan Islam, Tafsir Al-Misbah

Abstract

Menimbang akan pendidikan yang sangat penting, saat ini banyak hal yang bertentangan terjadi dalam lingkup pendidikan. Bahwasanya pendidikan yang dijalankan oleh guru, orang tua atau lembaga tertentu yang berperan sebagai pendidik hanya sebatas pada kognitif saja, sedangkan aspek afektif dan psikomotorik kurang jadi perhatian pendidik. Terkait dengan ilmu pengetahuan dalam pengembangannya harus berasal dari sumber utama Islam, yaitu AlQur‟an dan Hadis. Dalam Al-Qur‟an yang dapat diambil pelajarannya yaitu kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidir as, yang dapat diambil pelajarannya mengenai konsep pendidikan Pada penelitian ini, menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan metode yang menguraikan dan menganalisis fakta, kejadian, interaksi sosial, tanggapan dan pandangan orang lain baik secara personal maupun berkelompok sehingga data yang dihasilkan berdasarkan realitas yang benar adanya. Dalam pembahasan penelitian ini dilakukan melalui pendekatan tematik. Kemudian ayat-ayat Al-Qur‟an yang dicantumkan ditelaah berdasarkan analisis tafsir almisbah agar mudah dipahami. Kisah Nabi Musa dengan Nabi Khidir menunjukkan adanya unsur pendidikan, dimana Nabi Khidir sebagai pendidik yang dapat memahami permasalahan yang dihadapi oleh peserta didiknya, sabar dan lemah lembut, mengajar dengan kasih sayang, pemaaf dan menguasai materi pembelajaran dimana Nabi Musa sebagai peserta didik tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Nabi Khidir. Seorang pendidik harus memiliki akhlak yang mulia. Dalam menuntut ilmu peserta didik harus sungguh-sungguh, memiliki ambisi, dan juga meminta maaf dengan sopan serta disiplin.

References

Djamarah, S. B. dan A. Z. (2010). Starategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta.

Qardhawi, Y. (1999). Al-Qur’an berbicara tentang akal dan ilmu pengetahuan. Gema Insani.

Ramayulis. (2008). Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia.

Ramayulis. (2011). Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia.

Sanjaya, W. (2006). Starategi Pembelajaran. Kencana.

Sardiman. (2010). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Rajawali.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati.

Sukmadinata, S. N. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya.

Suryabrata, S. (2001). Psikologi Pendidikan. Raja Grafindo Persada.

Syahidin. (2009). Menelusuri Metode Pendidikan Dalam Al-Qur’an. CV ALFABET.

Tafsir, A. (2000). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. PT Remaja Rosda Karya.

Uhbiyati, N. (2013). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam. Pustaka Rizki Putra.

Downloads

Published

2023-06-27

How to Cite

Syamsiah, S., Masri, D., Pane, N., & Yani, D. A. (2023). Konsep Pendidikan pada Kisah Nabi Khidir As Dan Nabi Musa As Dalam Surah Al-Kahfi Ayat 62-82 dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam (Tafsir Al-Misbah). ANTHOR: Education and Learning Journal, 2(4), 559–565. https://doi.org/10.31004/anthor.v2i4.199

Issue

Section

Articles

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.