Fenomenologis tentang Stigma Sosial terhadap Fujoshi pada Mahasiswa Universitas di Palembang
DOI:
https://doi.org/10.31004/anthor.v5i3.781Keywords:
Boy’s Love, Fujoshi, Fenomenologi, Stigma SosialAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman mahasiswi fujoshi dalam menghadapi stigma sosial di lingkungan sosial maupun media digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Partisipan penelitian terdiri dari tiga mahasiswi berusia 19–21 tahun yang aktif mengonsumsi konten Boy’s Love. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan fenomenologi Moustakas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memaknai konten BL sebagai bentuk hiburan dan preferensi pribadi, bukan sebagai penyimpangan identitas seksual. Meskipun demikian, partisipan mengalami stigma berupa stereotip, komentar negatif, ejekan, dan penilaian moral dari lingkungan sosial maupun media digital. Dampak yang dirasakan meliputi rasa takut, malu, cemas, serta kecenderungan menyembunyikan identitas sebagai fujoshi. Strategi coping yang dilakukan yaitu membatasi keterbukaan diri dan mencari dukungan melalui komunitas daring. Temuan penelitian menunjukkan bahwa stigma sosial terhadap fujoshi berkaitan dengan penerimaan diri, identitas sosial, dan kesehatan mental individu.
References
Arnett, J. J. (2021). Emerging adulthood: The winding road from the late teens through the twenties. Oxford University Press.
Creswell, J. W. (2018). Qualitative inquiry and research design. Sage.
Galbraith, P. W. (2021). Fujoshi and female fan culture in Japan. Routledge.
Link, B. G., & Phelan, J. C. (2022). Stigma as a fundamental cause of population health inequalities. Annual Review of Sociology, 48, 1–22.
Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. Sage Publications.
Rahmawati, A., et al. (2023). Social pressure among emerging adult women. Journal of Social Psychology, 15(2), 55–68.
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.
Tariuni, D., et al. (2023). Komunitas fujoshi dan stigma identitas gender. Jurnal Komunikasi, 12(1), 45–58.
Wahdah, A. Z., & Malasari, P. N. (2022). Studi ex post facto: Apakah kecerdasan emosional berkontribusi terhadap prestasi belajar matematika siswa? Journal Focus Action of Research Mathematic (Factor M), 4(2), 123–138. https://doi.org/10.30762/factor_m.v4i2.4093
Wanimbo, M., Tasik, F. C. M., & Lasut, J. J. (2022). Peran pendidikan dalam proses perubahan sosial bagi masyarakat di Desa Nanim Kecamatan Ayumnati Kabupaten Lannyjaya. Jurnal Ilmiah Society, 2(1), 1–13.
Wijayanto, B., Luthfi, Z. F., Suci, F. R. Z., Operma, S., Pernando, J., & Johnstone, J. M. (2023). Augmented reality-based mobile learning: Enhancing student spatial intelligence. Journal of Higher Education Theory and Practice, 23(9), 217–230. https://doi.org/10.33423/jhetp.v23i9.6135
Yulius. (2025). Kajian terhadap technology acceptance model pada sistem mobile learning untuk menunjang pembelajaran bahasa Mandarin. https://id.scribd.com/document/688450718/Yulius-Kajian-TerhadapTechnology-Acceptance-Model-Pada-Sistem-Mobile-Learning-Untuk-Me
Zaharia, N. D., & Zainuddin. (2023). Perkembangan pendidikan di Indonesia. Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya, 1(5), 1–10.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Isti Dwi Cahyani, Arizona, Endang Surtiyoni

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







