Deskripsi Tari Jaran Buto Dalam Perspektif Tata Rias dan Busana di Kabupaten Banyuasin Sumatra Selatan
DOI:
https://doi.org/10.31004/anthor.v2i4.169Keywords:
Tari Jaran Buto, Perspektif Tata Rias, BusanaAbstract
Tari Jaran Buto adalah tari yang diartikan “ Kuda Lumping Raksasa” adanya kesenian Jaran Buto terinspirasi dari cerita rakyat yang melegenda di Banyuwangi yakni seorang Menak Jinggo seorang raja kerajaan Blambangan, konon Raja Menak Jinggo yang memiliki kepala buto dan berbadan besar kekar bagaikan raksasa. Tari Jaran Buto merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh bapak Yono Santoso yang terinspirasi dari Tari Jaran Buto yang berada di Banyuwangi dan diciptakan oleh seniman Setro Asnawi pada tahun 1963. Tata rias menjadi hal paling penting dalam tari ini karna tata riasnya yang dominan seram disetiap karakter tokoh yang diperankan dan memiliki makna tersediri dan busana yang digunakan menyerupai raksasa tetapi dengan perpaduan warna-warna dan accessories yang unik dan khas. Tata rias merupakan hal yang sangat penting juga merupakan hal yang paling peka dihadapan penonton. Tata Rias tari Jaran Buto menggunakan tata rias karakter yang berarti tata rias dengan
mengubah keseluruhan wajah dan karakter penari yang sesuai dengan kebutuhan tema tari, sedangkan busana tari jaran buto dibagi menjadi lima bagian yakni busana dasar, tubuh, kaki, kepala dan aksesoris. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif. Proses pengumpulan data pada tulisan ini menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka dan pengelolahan dan analisis data, hasil analisis dari metode kualitatif adalah deskriptif tata rias dan busana tari Jaran Buto.
References
Bahari, N. (2017). Kritik seni Wacana Apresiasi dan Kreasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Elvandari, E., Rochayati, R., & Hera, T. (2016). Menuju Kelas Koreografi. Palembang: Komunitas Lumbung Kreatif.
Endraswara, S. (2011). Metode Pembelajaran Drama ( Apresiasi, Ekspresi, dan Pengkajian). Yogyakarta: CAPS.
Firdaus, H. K. (2018). Makna Simbolis Tata Rias, Tata Busana dan Properti Tari Jaran Buto Di Kabupaten Banyuwangi. ejournal.unesa.ac.id, 2.
Hadi, Y. S. (2018). Revitalisasi tari tradisional. ISI Yogyakarta: Cipta Media.
Heriyawati, Y. (2016). Seni Pertunjukan dan Ritual. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Jazuli, M. (2021). Seni Tari. Semarang, Jawa Tengah: Penerbit cipta prima Nusantara.
Reindra. (2023). Kabupaten Banyuasin. (Online). Retrieved from id.m.wikipedia.org: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyuasin. Diakses pada (2023, januari selasa).
Seriati, N. N. (2023, januari selasa). Mata Kuliah Komposisi dan Koreografi. Retrieved from Staffnew.uny.ac.id: http://staffnew.uny.ac.id/upload/131763784/pendidikan/Diktat+Komposisi+dan+Koreografi+I+2008.pdf
Seriati, N. N. (2023, januari selasa ). Mata Kuliah Komposisi dan Koreogrfafi. Retrieved from staffnew.uny.ac.id: http://staffnew.uny.ac.id/upload/131763784/pendidikan/Diktat+Komposisi+dan+Koreografi+I+2008.pdf
Supriyadi. (2013). Teori dan apresiasi drama/teater. Palembang: Maheda Utama Jaya.
Sustiawati, N. L., Arini, A. K., Suci, N. N., Armini, N. L., & Sukasih, N. N. (2011). Pengetahuan Seni Tari Bali. Denpasar, Bali: PT. Empat Warna Komunikasi.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Defi Tri Wahyuni, Rully Rochayati, Silo Siswanto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







