Hubungan Inisiasi Menyusu Dini, Bayi Berat Lahir Rendah dan Pemberian ASI Eksklusif dengan Balita Stunting di Puskesmas Banjarsari

Authors

  • Ernita Indah Wardhani Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjungkarang, Indonesia
  • Ika Oktaviani Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjungkarang, Indonesia
  • Herlina Politeknik Kesehatan Kemenkes Tanjungkarang, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/anthor.v5i3.600

Keywords:

Stunting, Inisiasi Menyusu Dini, Bayi Berat Lahir Rendah, ASI Eksklusif, Balita

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi perhatian karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), prevalensi stunting global pada tahun 2024 mencapai 23,2%, sedangkan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 19,8%. Puskesmas Banjarsari merupakan wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di Kota Metro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan inisiasi menyusu dini (IMD), bayi berat lahir rendah (BBLR), dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Banjarsari Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang terdiri atas 20 kelompok kasus dan 40 kelompok kontrol yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi menggunakan lembar checklist, pengukuran antropometri, dan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66,7% balita mendapatkan IMD, 16,7% memiliki riwayat BBLR, dan 51,7% mendapatkan ASI eksklusif. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara IMD dengan kejadian stunting (p=0,026; OR=4,210; 95% CI=1,331–13,320), BBLR dengan kejadian stunting (p=0,002; OR=12,667; 95% CI=2,361–67,958), serta ASI eksklusif dengan kejadian stunting (p=0,036; OR=3,889; 95% CI=1,230–12,292). Faktor yang memiliki risiko terbesar terhadap kejadian stunting adalah BBLR, di mana balita dengan riwayat BBLR memiliki peluang 12,667 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita dengan berat lahir normal. Kesimpulan Inisiasi menyusu dini, bayi berat lahir rendah, dan pemberian ASI eksklusif berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Banjarsari Tahun 2025.

References

Angelina, R., Fitriani, A., & Sari, M. (2018). Hubungan inisiasi menyusu dini dengan kejadian stunting pada balita usia 6–23 bulan di Provinsi Lampung.

Cahyani, S. P., Witradharma, T. W., & Okfrianti, Y. (2022). Hubungan riwayat pemberian inisiasi menyusu dini dan ASI eksklusif dengan kejadian stunting anak balita usia 12–59 bulan.

Deswita, D., Yulizawati, Y., & Fajria, L. (2023). Stunting pada anak: Faktor risiko, dampak, dan pencegahan. Deepublish.

Maryunani, A. (2021). Inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif, dan manajemen laktasi. Trans Info Media.

Mendri, N. K., Handayani, S., & Wulandari, D. (2021). Asuhan kebidanan neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah. Pustaka Baru Press.

Murti, A., Nugroho, T., & Widyastuti, R. (2020). Hubungan berat badan lahir rendah dengan kejadian stunting pada balita di Desa Umbulrejo Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunung Kidul.

Nopitasari, D. (2023). Pemberian ASI eksklusif dan pencegahan stunting pada balita. CV Eureka Media Aksara.

Novianti, R., Kurniawati, D., & Puspita, E. (2020). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita.

Pakpahan, M. (2021). 1000 Hari Pertama Kehidupan dan pencegahan stunting. Yayasan Kita Menulis.

Pramulya, R., Handayani, S., & Nurhayati, E. (2021). Peran kalsium dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Purba, E. M., Simanjuntak, R., & Sitanggang, Y. (2021). Faktor risiko stunting pada anak usia bawah lima tahun.

Rahmadi, A. (2016). Hubungan berat badan lahir dan panjang badan lahir dengan kejadian stunting anak usia 12–59 bulan di Provinsi Lampung.

Ratnapuri, A. (2023). Stunting dan upaya pencegahannya. CV Eureka Media Aksara.

Roslina, R., & Zahrotunnisa, E. N. (2024). Faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaan inisiasi menyusu dini pada ibu bersalin.

Sembiring, J. B. (2017). Buku ajar neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah. Deepublish.

Septikasari, M. (2014). Status gizi anak dan faktor yang memengaruhinya. Nuha Medika.

Septikasari, M. (2018). Status gizi anak dan stunting. Nuha Medika.

Sholihah, N. (2023). Hubungan bayi berat lahir rendah dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Dradah.

Wahid, A., Hidayati, N., & Kurniawan, D. (2020). Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Desa Talang Kecamatan Saronggi.

Windasari, D. P., Syam, I., & Kamal, L. S. (2020). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Jurnal Kebidanan Malakbi, 1(2), 51–58.

Yuliawati, E., Kurniasih, D., & Handayani, L. (2024). Intervensi 1000 Hari Pertama Kehidupan dalam pencegahan stunting pada anak.

Downloads

Published

2026-06-19

How to Cite

Wardhani, E. I., Oktaviani, I., & Herlina, H. (2026). Hubungan Inisiasi Menyusu Dini, Bayi Berat Lahir Rendah dan Pemberian ASI Eksklusif dengan Balita Stunting di Puskesmas Banjarsari. ANTHOR: Education and Learning Journal, 5(3), 1109–1116. https://doi.org/10.31004/anthor.v5i3.600

Issue

Section

Articles

Similar Articles

<< < 9 10 11 12 13 14 15 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.