Strategi Pengembangan Agrowisata Pesisir Berkelanjutan

Studi Kasus Pantai Payum di Pesisir Merauke

Authors

  • Khoirul An’am Universitas Musamus, Merauke, Indonesia
  • Febri Nur Pramudya Universitas Musamus, Merauke, Indonesia
  • Nurul Musdalifah Universitas Musamus, Merauke, Indonesia
  • Nina Maksimiliana Ginting Universitas Musamus, Merauke, Indonesia
  • Abdul Rizal Universitas Musamus, Merauke, Indonesia
  • Maria MD Widiastuti Universitas Musamus, Merauke, Indonesia
  • Wa Ode Suriani Universitas Musamus, Merauke, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/anthor.v5i5.1444

Keywords:

Agrowisata Pesisir, Analisis SWOT, Manajemen Strategis, Pantai Payum, Suku Marind

Abstract

Pembangunan ekonomi di wilayah pesisir perbatasan Kabupaten Merauke masih didominasi oleh sektor ekstraktif yang rentan memicu degradasi lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengembangan ekonomi hijau seperti agrowisata pesisir berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor strategis internal dan eksternal kawasan Pantai Payum serta merumuskan rekomendasi strategi pengembangannya. Penelitian menggunakan metode kombinasi (mixed methods) kuantitatif dan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi lapang terhadap 5 petani/nelayan lokal, 5 wisatawan, serta 5 informan ahli. Data dianalisis menggunakan matriks Internal Factor Evaluation (IFE), External Factor Evaluation (EFE), matriks SWOT, dan matriks Grand Strategy. Hasil analisis menunjukkan total skor IFE sebesar 1,39 dan skor EFE sebesar 1,45, yang menempatkan posisi strategis Pantai Payum pada Kuadran I Grand Strategy dengan titik koordinat (0,62; 0,57). Posisi ini mengindikasikan kelayakan penerapan strategi agresif (Strengths–Opportunities / SO). Prioritas strategi utama yang dirumuskan adalah pengembangan paket agrowisata edukatif berbasis produk pangan lokal (ubi jalar, kelapa pesisir) dan perikanan tradisional Suku Marind (kepiting bakau dan udang), yang didukung oleh penetapan zonasi berbasis hak ulayat serta sabuk hijau (greenbelt) pelindung abrasi. Temuan ini memberikan landasan kebijakan ilmiah bagi pemerintah daerah dalam penataan agrowisata pesisir yang adaptif terhadap perubahan iklim dan inklusif bagi masyarakat adat.

References

Ahmad, I., Rani, A. M. B., Verma, A. K., & Maqsood, M. (2017). Biofloc technology: An emerging avenue in aquatic animal healthcare and nutrition. Aquaculture International, 25(3), 1215–1226. https://doi.org/10.1007/s10499-016-0108-8

Ammirato, S., Felicetti, A. M., Gala, M. E., & Raso, C. (2021). Economic sustainability of agritourism: A systematic literature review and future research directions. Sustainability, 13(14), Article 7923. https://doi.org/10.3390/su13147923

Badan Pusat Statistik Kabupaten Merauke. (2025). Kabupaten Merauke dalam angka 2025. BPS Kabupaten Merauke.

Che, D., Veeck, A., & Veeck, G. (2019). Sustaining production and protecting environment: The role of coastal agritourism in developing countries. Journal of Coastal Research, 35(4), 812–824. https://doi.org/10.2112/JCOASTRES-D-18-00127.1

David, F. R., & David, F. R. (2016). Strategic management: A competitive advantage approach, concepts and cases (16th ed.). Pearson Education.

Fahmi, A., & Siregar, R. A. (2022). Respon pertumbuhan dan hasil tanaman ubi jalar (Ipomoea batatas L.) terhadap cekaman salinitas di lahan pesisir. Agricola: Jurnal Pertanian, 12(2), 95–104. https://doi.org/10.35724/agricola.v12i2.4680

Hall, C. M. (2016). Interventions in coastal and marine tourism: Policy, governance, and the blue economy. Tourism Management, 55, 342–351. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2016.02.015

IPCC. (2023). Climate change 2023: Synthesis report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. IPCC. https://doi.org/10.59327/IPCC/AR6-9789291691647

Karampela, S., Kizos, T., & Spilanis, I. (2016). Evaluating the impacts of agritourism on local development in small islands. Island Studies Journal, 11(1), 161–176. https://doi.org/10.24043/isj.339

Kartika, L., & Edison, E. (2021). Model pengembangan agrowisata berbasis pemberdayaan masyarakat (community-based agritourism). Jurnal Agribisnis Indonesia, 9(1), 45–58. https://doi.org/10.29244/jai.2021.9.1.45-58

Kementerian Transmigrasi dan Percepatan Pembangunan Daerah Republik Indonesia. (2024). Rencana strategis pembangunan wilayah perbatasan dan kawasan tertinggal 2025–2029. KTPPD RI.

Lucrezi, S., Saayman, M., & Van der Merwe, P. (2018). The nexus between agriculture and coastal tourism: An unexploited potential for sustainable development. Ocean & Coastal Management, 156, 114–126. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2017.06.014

Mubarak, A., & Mahfud, M. (2025). Ekonomi ekstraktif vs pembangunan berkelanjutan di wilayah adat Papua Selatan. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Sosial, 14(1), 45–62. https://doi.org/10.22146/jeps.v14i1.89012

Pambudi, A. S., Prihatno, J., & Rahayu, S. (2018). Strategi pengelolaan ekosistem mangrove dan vegetasi pantai berbasis masyarakat. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 6(3), 185–198. https://doi.org/10.14710/jwl.6.3.185-198

Pramudya, F. N., An’am, K., & Musdalifah, N. (2026). Determinasi niat pembelian produk rumah tangga ramah lingkungan di Indonesia: Pendekatan theory of planned behavior. Journal of Economics, Management, and Accounting, 1(2), 88–98.

Pratama, A., & Mahaputra, I. K. (2023). Valuasi ekonomi dan strategi konservasi sabuk hijau (greenbelt) pantai terhadap pencegahan abrasi. Jurnal Ilmu Kelautan Tropis, 15(2), 210–224. https://doi.org/10.29244/jikt.v15i2.44120

Rahmad, D., & Suryanto, B. (2024). Analisis keanekaragaman dan adaptabilitas varietas lokal gembili (Dioscorea esculenta) pada lahan marjinal pasang-surut. Agricola: Jurnal Pertanian, 14(1), 33–42. https://doi.org/10.35724/agricola.v14i1.5910

Siregar, H. J. (2021). Kerentanan biofisik pesisir Kabupaten Merauke terhadap ancaman kenaikan muka air laut. Jurnal Kelautan Nasional, 16(1), 12–25. https://doi.org/10.15578/jkn.v16i1.9213

Sunari, S., Wiguna, I. P., & Utama, I. G. B. R. (2021). Strategi bertahan agrowisata berbasis subak di masa krisis. Jurnal SINTA Pertanian Internasional, 9(2), 154–168. https://doi.org/10.22225/jsp.9.2.2021.154-168

Suroso, B., Hadi, S., & Lestari, P. (2023). Dinamika ekosistem pasang surut dan penghidupan suku Marind di pesisir Papua Selatan. Jurnal Antropologi Indonesia, 44(2), 118–132. https://doi.org/10.7454/ai.v44i2.12450

Wambrauw, O. L., Runtuboi, Y. Y., & Heatubun, C. J. (2022). Sustainable development in Papua: Balancing customary land rights and ecotourism development. World Development Perspectives, 26, Article 100412. https://doi.org/10.1016/j.wdp.2022.100412

Wijayanti, K. D., & Saili, T. (2025). Penguatan kapasitas kelembagaan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dalam pengembangan desa wisata agrikultur. Jurnal Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat, 12(1), 77–90. https://doi.org/10.23960/jppm.v12i1.874

Winarso, G., & Handayani, T. (2023). Deteksi dinamika garis pantai menggunakan citra satelit multitemporal di Pesisir Merauke. Jurnal Penginderaan Jauh Indonesia, 15(3), 89–101. https://doi.org/10.24895/JPJI.2023.15.3.89-101

Downloads

Published

2026-10-07

How to Cite

An’am, K., Pramudya, F. N., Musdalifah, N., Ginting, N. M., Rizal, A., Widiastuti, M. M., & Suriani, W. O. (2026). Strategi Pengembangan Agrowisata Pesisir Berkelanjutan: Studi Kasus Pantai Payum di Pesisir Merauke. ANTHOR: Education and Learning Journal, 5(5), 909–915. https://doi.org/10.31004/anthor.v5i5.1444

Issue

Section

Articles