Relasi Manusia dan Alam dalam Puisi “Lembah Anai” dan “Sungai Siak” Karya Raudal Tanjung Banua

Kajian Ekokritik

Authors

  • Kun Andyan Anindita Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia
  • Tri Ratna Herawati Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia
  • Muncar Tyas Palupi Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia
  • Fitri Jamilah Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia
  • Primasari Wahyuni Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia
  • Tomi Wahyu Septarianto Universitas PGRI Yogyakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31004/anthor.v5i4.520

Keywords:

Ekokritik, Puisi, Raudal Tanjung Banua

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksi relasi manusia dan alam dengan menggunakan pendekatan ekokritik. Permasalahan yang diungkap dalam penelitian ini adalah melihat bagaimana bahasa puitik yang bekerja dalam membangun kesadaran ekologis, representasi relasi manusia dan alam serta kritik terhadap paradigma pembangunan yang eksploitatif. Sumber data penelitian berupa puisi “Lembah Anai” dan “Sungai Siak” karya Raudal Tanjung Banua yang terdapat dalam kumpulan puisinya yang berjudul Jejak Lintasan (2024). Data penelitian berupa diksi ekologis yang berkaitan dengan alam, sungai, hutan, air, dan relasi manusia dengan lingkungan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik baca dan catat dengan mengidentifikasi metafora, citraan, dan simbol ekologis dalam teks. Hasil analisis ekokritik terhadap puisi Lembah Anai dan Sungai Siak menunjukkan bahwa kedua puisi tersebut menghadirkan alam bukan sekadar sebagai latar estetis, melainkan sebagai entitas hidup yang memiliki nilai ekologis, historis, spiritual, dan emosional. Melalui penggunaan bahasa puitik berupa metafora, simbol, personifikasi, dan citraan alam, penyair membangun kesadaran ekologis yang menempatkan manusia dan alam dalam relasi yang saling terhubung. Alam direpresentasikan sebagai ruang hidup yang memiliki sensitivitas, memori, dan makna spiritual sehingga tidak dapat direduksi hanya sebagai objek eksploitasi pembangunan modern. Penelitian ini memperlihatkan bahwa puisi dapat menjadi bentuk resistensi terhadap dominasi antroposentrisme dan paradigma pembangunan kapitalistik yang destruktif terhadap lingkungan.

References

Alaimo, S. (2010). Bodily natures. Indiana University Press.

Banua, R. T. (2024). Jejak lintasan. Akar Indonesia.

Budiyanto, D., Hartono, H., Kusmarwanti, K., & Liliani, E. (2022). Ecological degradation and oligarchic networks in Indonesian novels. Literature and Literacy, 1(1), 1–15. https://doi.org/10.21831/litlit.v1i1.13

Buell, L. (2005). The future of environmental criticism: Environmental crisis and literary imagination. Blackwell.

Fitri Al-Qolbi, L. (2025). Postcolonial ecocritical perspectives in Indonesian literature. Journal of Literary Prose and Society, 2(1), 33–45. https://doi.org/10.59261/jlps.v2i1.13

Garrard, G. (2012). Ecocriticism. Routledge.

Glotfelty, C., & Fromm, H. (Eds.). (1996). The ecocriticism reader: Landmarks in literary ecology. University of Georgia Press.

Heise, U. K. (2016). Imagining extinction: The cultural meanings of endangered species. University of Chicago Press.

Iheka, C. N. (2018). Naturalizing Africa: Ecological violence, agency, and postcolonial resistance in African literature. Cambridge University Press.

Iovino, S., & Oppermann, S. (Eds.). (2014). Material ecocriticism. Indiana University Press.

Keraf, S. A. (2010). Etika lingkungan hidup. Penerbit Buku Kompas.

Khomisah. (2020). Ekokritik dalam perkembangan kajian sastra. Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam, 17(1), 83–94. https://doi.org/10.15575/al-tsaqafa.v17i1.6032

Khristiyanti, D., & Supriyanto, T. (2018). Nature environment representation in Raudal Tanjung Banua poetries: Ecocriticism review. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(2), 154–164. https://doi.org/10.15294/seloka.v7i2.20092

Knickerbocker, S. (2012). Ecopoetics: The language of nature, the nature of language. University of Massachusetts Press.

Morton, T. (2007). Ecology without nature: Rethinking environmental aesthetics. Harvard University Press.

Naess, A. (1973). The shallow and the deep, long-range ecology movement. Inquiry, 16(1), 95–100. https://doi.org/10.1080/00201747308601682

Nixon, R. (2011). Slow violence and the environmentalism of the poor. Harvard University Press.

Pamungkas, O. Y. (2024). Chirps and silence: A study of ecocriticism in poetry's by Sugiarto B. Darmawan. Journal of Linguistics, Culture and Communication, 2(2), 225–242. https://doi.org/10.61320/jolcc.v2i2.225-242

Rigby, K. (2017). Deep sustainability: Ecopoetics, enjoyment and ecstatic hospitality. Literature and Sustainability, 52.

Slovic, S. (2010). Ecocriticism: Containing multitudes, practicing doctrine. In G. Garrard (Ed.), The Oxford handbook of ecocriticism. Oxford University Press.

Sugiarti, S., & Andalas, E. F. (2018). Perspektif ekokritik dalam sastra Indonesia. Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4(2), 111–122.

Sultoni, A., Suwandi, S., Andayani, & Sumarwati. (2023). Representation of ecological wisdom in Banyumas folklore: An ecocritical study. Theory and Practice in Language Studies, 13(12), 3141–3148. https://doi.org/10.17507/tpls.1312.11

Yulisetiani, S. (2020). Sustaining the environment: The wisdom of Banyumas women in Ahmad Tohari's novels. Rupkatha, 12(1), 1–11. https://doi.org/10.21659/rupkatha.v12n1.19

Zapf, H. (2016). Literature as cultural ecology: Sustainable texts. Bloomsbury Publishing.

Downloads

Published

2026-08-02

How to Cite

Anindita, K. A., Herawati, T. R., Palupi, M. T., Jamilah, F., Wahyuni, P., & Septarianto, T. W. (2026). Relasi Manusia dan Alam dalam Puisi “Lembah Anai” dan “Sungai Siak” Karya Raudal Tanjung Banua: Kajian Ekokritik. ANTHOR: Education and Learning Journal, 5(4), 1404–1411. https://doi.org/10.31004/anthor.v5i4.520

Issue

Section

Articles