Inklusivitas Pertumbuhan Ekonomi Antarprovinsi di Indonesia
Pengukuran Multidimensi dan Analisis Determinan Berbasis Data Panel Tahun 2015–2025
DOI:
https://doi.org/10.31004/anthor.v5i5.1576Keywords:
Pertumbuhan Ekonomi Inklusif, Disparitas Antarprovinsi, Indeks Komposit, Determinan Inklusivitas, Regresi Data PanelAbstract
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu mencerminkan pemerataan kesejahteraan, sebagaimana terlihat dari perbedaan capaian pengurangan kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran antarprovinsi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat inklusivitas pertumbuhan ekonomi, membandingkan capaian antarprovinsi, serta menganalisis determinannya selama periode 2015–2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan data panel tidak seimbang dari Badan Pusat Statistik yang mencakup 38 provinsi. Inklusivitas diukur melalui tiga dimensi elastisitas, yaitu inklusivitas kemiskinan (IGp), ketimpangan (IGin), dan ketenagakerjaan (IGem), yang dinormalisasi dan digabungkan menjadi Indeks Pertumbuhan Inklusif (IGI). Pengukuran menggunakan 343 observasi provinsi-tahun, sedangkan analisis determinan menggunakan regresi data panel dengan 274 observasi dari 37 provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata IGp sebesar 0,69, IGin sebesar 0,27, dan IGem sebesar 0,42, dengan rata-rata IGI mencapai 0,53. Pertumbuhan ekonomi disertai penurunan kemiskinan pada 84,3% observasi, ketimpangan pada 68,5%, dan pengangguran pada 72,3%, tetapi perbaikan ketiganya secara simultan hanya mencapai 43,1%. Riau, Nusa Tenggara Barat, dan Aceh memiliki IGI tertinggi, sedangkan Papua dan Maluku Utara terendah. Inflasi berasosiasi positif dan signifikan dengan IGI, pendidikan signifikan hanya pada model fixed effects, sedangkan PDRB per kapita dan komponen kuadratnya tidak signifikan secara bersama. Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif sehingga diperlukan kebijakan yang memperkuat pemerataan manfaat pembangunan dan penciptaan kesempatan kerja.
References
Aghion, P., & Howitt, P. (1998). Endogenous growth theory. MIT Press.
Ali, I., & Son, H. H. (2007). Measuring inclusive growth. Asian Development Review, 24(1), 11–31. https://doi.org/10.1142/S0116110507000024
Ali, I., & Zhuang, J. (2007). Inclusive growth toward a prosperous Asia: Policy implications (ADB Economics Working Paper No. 97). Asian Development Bank.
Afriliana, S. N., & Wahyudi, S. T. (2022). Analisis pertumbuhan ekonomi inklusif: Studi komparasi antarprovinsi di Indonesia. Journal of Development Economic and Social Studies, 1(1). https://doi.org/10.21776/jdess.2022.01.1.5
Badan Pusat Statistik. (2026a). Gini ratio September 2025 tercatat sebesar 0,363.
Badan Pusat Statistik. (2026b). Persentase penduduk miskin September 2025 turun menjadi 8,25 persen [Berita Resmi Statistik, 5 Februari 2026]. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/05/2536/persentase-penduduk-miskin-september-2025-turun--menjadi-8-25-persen-.html
Badan Pusat Statistik. (2026c). Query builder dan tabel statistik BPS: Persentase penduduk miskin, Gini ratio, tingkat pengangguran terbuka, laju pertumbuhan PDRB ADHK 2010, PDRB per kapita ADHK 2010, rata-rata lama sekolah (metode baru), dan inflasi kota IHK, 2015–2026. https://www.bps.go.id
Bappenas. (2023). Indeks pembangunan ekonomi inklusif. Kementerian PPN/Bappenas.
Domar, E. D. (1946). Capital expansion, rate of growth, and employment. Econometrica, 14(2), 137–147. https://doi.org/10.2307/1905364
Harrod, R. F. (1939). An essay in dynamic theory. The Economic Journal, 49(193), 14–33. https://doi.org/10.1111/ecoj.12224
Ianchovichina, E., & Lundstrom, S. (2009). Inclusive growth analytics: Framework and application (Policy Research Working Paper No. 4851). World Bank. https://doi.org/10.1596/1813-9450-4851
Kakwani, N., & Pernia, E. M. (2000). What is pro-poor growth? Asian Development Review, 18(1), 1–16. https://doi.org/10.1142/S0116110500000014
Kakwani, N., & Son, H. H. (2008). Poverty equivalent growth rate. Review of Income and Wealth, 54(4), 643–655. https://doi.org/10.1111/j.1475-4991.2008.00293.x
Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2022). Peresmian Provinsi Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Barat Daya berdasarkan UU No. 14, 15, 16 Tahun 2022 dan UU No. 29 Tahun 2022.
Klasen, S. (2010). Measuring and monitoring inclusive growth: Multiple definitions, open questions, and some constructive proposals (ADB Sustainable Development Working Paper No. 12). Asian Development Bank. https://doi.org/10.1332/policypress/9781447332497.003.0006
Kusumaningrum, S., & Yuhan, R. J. (2019). Pertumbuhan ekonomi provinsi di Indonesia berdasarkan indeks komposit pertumbuhan inklusif dan faktor yang memengaruhinya. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 10(1), 1–17. https://doi.org/10.22212/jekp.v10i1.1150
Kuznets, S. (1955). Economic growth and income inequality. The American Economic Review, 45(1), 1–28. https://www.jstor.org/stable/1811581
Lucas, R. E. (1988). On the mechanics of economic development. Journal of Monetary Economics, 22(1), 3–42. https://doi.org/10.1016/0304-3932(88)90168-7
Lukiawan, R., Mulatsih, S., & Purwanto, D. A. (2026). Determinan pertumbuhan ekonomi inklusif di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan, 15(1), 1–16. https://doi.org/10.29244/jekp.15.1.2026.1-16
Mankiw, N. G., Romer, D., & Weil, D. N. (1992). A contribution to the empirics of economic growth. The Quarterly Journal of Economics, 107(2), 407–437. https://doi.org/10.2307/2118477
Okun, A. M. (1962). Potential GNP: Its measurement and significance. In Proceedings of the Business and Economic Statistics Section, American Statistical Association (pp. 98–104).
Perotti, R. (1996). Growth, income distribution, and democracy: What the data say. Journal of Economic Growth, 1(2), 149–187.
Persson, T., & Tabellini, G. (1994). Is inequality harmful for growth? The American Economic Review, 84(3), 600–621.
Ravallion, M. (2004). Pro-poor growth: A primer (Policy Research Working Paper No. 3242). World Bank.
Ravallion, M., & Chen, S. (2003). Measuring pro-poor growth. Economics Letters, 78(1), 93–99.
Rini, D. L., & Tambunan, T. T. H. (2021). Inclusive economic growth of Indonesia and its determinants: Recent evidence with provincial data. Asian Journal of Interdisciplinary Research. https://doi.org/10.34256/ajir2118
Romer, P. M. (1986). Increasing returns and long-run growth. Journal of Political Economy, 94(5), 1002–1037.
Sen, A. (1999). Development as freedom. Alfred A. Knopf.
Sitorus, A. V. Y., & Arsani, A. M. (2018). A comparative study of inter-provincial inclusive economic growth in Indonesia 2010–2015 with approach methods of ADB, WEF, and UNDP. Jurnal Perencanaan Pembangunan: The Indonesian Journal of Development Planning, 2(1). https://doi.org/10.36574/jpp.v2i1.32
Solow, R. M. (1956). A contribution to the theory of economic growth. The Quarterly Journal of Economics, 70(1), 65–94.
Swan, T. W. (1956). Economic growth and capital accumulation. The Economic Record, 32(2), 334–361.
Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2015). Economic development (12th ed.). Pearson.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Neng Rika Priliyani, R. Djoko Andreas Navalino, Yanda Dwira Firman Z

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







